Posted by: winnymirza | June 11, 2013

Journey to Borneo Part 2


Day 3 :

Yeay, adventure…adventure…subuh kami sudah siap jalan menuju Kumai kembali untuk meyusuri sungai Arut untuk naik speedboat dengan tujuan Camp Tanjung Harapan (kawasan konservasi camp pertama), kami memutuskan untuk tidak sampai ke akhir camp yaitu camp Leakey, karena menurut guide kami, menuju kesana dengan speedboat membutuhkan waktu sekitar 2 jam dan biayanya pun cukup lumayan yaitu Rp. 600rb, sedangkan jika kita mengikuti tour dengan Klotok, membutuhkan biaya Rp. 1.5 juta – 1.8 jt/10 orang, sebenernya saya ingin sekali naik klotok karena pengalamannya seperti film Anaconda atau The River, tetapi tour dengan klotok akan menghabiskan waktu 4.5 jam sampai tujuan, sehingga jika perjalanan dimulai pukul 08.00 WiB maka akan kembali ke pelabuhan sekitar pukul 7 malam. Baiklah, lain kali saja akan saya coba naik klotok besar.

borneo eco tour

Sesampainya di Pelabuhan Kumai, kami bertemu dengan rombongan yang akan naik klotok dengan tujuan camp lakey, sedangkan kami menunggu speedboat kami siap, sambil menunggu kami membeli tiket parkir boat dan masuk kawasan konservasi.  Tiket ini juga bisa dibeli di hari sebelumnya. Untuk biaya speedboat sampai camp pondok languy dan camp tanjung harapan adalah Rp. 300.000

collage HTM

Pukul 08.00 WIB driver speedboat dan guide kami sudah datang dan menginformasikan bahwa di setap camp ada waktu-waktu feeding untuk orang utan, dan untuk feeding di camp pertama di pos tanjung harapan sendiri adalah pukul 08.00 WIB, camp kedua di pos pondok panggui pukul 09.00 WIB dan di camp ketiga di pos Leakey pukul 14.00 WIB, hmmm karena pos pertama udah kelewat, jadi kita bertiga (saya, suami dan adik ipar) memutuskan untuk menuju camp kedua mengejar feeding pukul 09.00 WIB.

Ini kali pertama saya naik speedboat, adik ipar mengingatkan bahwa ini bukan wisata karena semakin mendekati lokasi camp leakey semakin banyak buayanya dan kita juga tidak menggunakan pelampung, intinya adalah kali ini alam liar beneran jadi jangan main-main, istri adik ipar juga mengingatkan supaya jangan asal ngomong karena hutan di sekitar sungai adalah hutan perawan dan pernah kejadian teman adik ipar “kerasukan” karena ngomong sembarangan. Hmmm jadi deg-degan.

Journey begin…..

Catatan penting untuk perjalanan ini adalah bawa jaket kalau tidak ingin masuk angin dan topi, perbekelan boleh dibawa untuk ngemil di speedboat tetapi tidak dimakan di depan orang utan karena akan direbut oleh mereka.

Saat di sungai Arut yang lebar, jika speedboat kita berpapasan dengan klotok atau sesama speedboat maka speedboat kita akan berguncang-guncang dan melompat-lompat hohoho seru, agak jauh dari sungai yang lebar ada beberapa pecahan menjadi sungai kecil (walaupun tetap lebar menurut saya), di sungai yang kecil ini airnya lebih tenang dan kita sering berpapasan dengan klotok dan speedboat lainnya yang sudah berhari-hari di camp leakey (kebanyakan pengunjung adalah warga negara asing). Benar-benar seperti film The River (yang pernah disetel di FOX) J….camp pertama adalah camp tanjung harapan, di camp ini memang kita harus berhenti  untuk pemeriksaan tiket masuk kawasan konservasi dan parkir boat, kami mampir di Desa Sekonyer, disini adik ipar menjeput rekannya yang bekerja di desa tersebut, ok karena saya duduk dengan supir dan 3 orang di belakang (suami saya, adik ipar dan guide), maka rekan adik saya duduk di depan boat x_x hadoh Pak berani banget, udah biasa sih ya. Di perjalanan driver saya menunjukan beberapa kali biawak yang lompat, di kanan kiri kami awalnya adalah hutan sawit, dan semakin ke dalam merupakan hutan alami dan yes sinyal ponsel langsung SOS hehehe…

boat 2

Di tengah perjalanan, driver kami teriak, “buayaaaaa buayaa, liat ga tadi?” Yep Pak saya liat tadi tu buaya lagi berjemur di permukaan air, tapi karena speedboat kami lewat dia langsung nyelem lagi x_x (buaya tidak menyukai suara mesin yang ribut). Ok, 1 buaya, anything else? Ternyata sampai di camp Pondok Panggui, amaaan tidak ada buaya lagi hohoho karena menurut guide kami Pak Damin buaya akan banyak sekali jika kita melewati air tenang menuju camp Leakey pada saat air sungai lebih jernih dari yang kali lewati saat ini (warna sungai adalah coklat tetapi tidak berbau sama sekali) – andai Jakarta dan Bogor begini.

camp tanjung harapanket. foto : camp pertama tanjung harapan, pemeriksaan tiket disini

camp pondok paggau

parkir pondok paggau

Sesampainya di camp Pondok Panggui, sudah banyak klotok dan boat yang parkir di pintu masuknya, sempet mikir gimana cara naik ke atas ya? Hmm ternyata emank harus sedikit usaha dan sedikit olahraga untuk sampai di kawasan konservasi dan tempat feeding orang utan-nya. Fiuh, ngos-ngosan kami terbayar ketika kami sampai tempat tujuan, ternyata sudah banyak orang kumpul untuk melihat feeding tersebut (rata-rata adalah bule dan anak-anaknya), di tempat feeding sudah ada 1 orang utan besar, ternyata dia adalah king di kawasan tersebut, namanya adalah DOYOK hehehe…tempat orang utan tersebut makan dibatasi hanya dengan tali saja dan tidak begitu jauh, ketika saya sedang take foto, ternyata ada orang utan lain yang datang dengan cara bergelantungan di pohon tepat di atas kami, tetapi dia tidak mau turun sampai dengan king DOYOK pergi, ternyata mereka berdua adalah pejantan, sehingga mereka tidak akan bertemu satu sama lain, dan jika memang bertemu kemungkinan terbesar adalah mereka akan berkelahi dan memperebutkan gelar king mereka.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Fakta dari guide kami :

Orang utan betina hamil seperti manusia yaitu 9 bulan dan mereka amat menyayangi anak-anak mereka, makanan orang utan adalah buah-buahan dan jika sedang tidak musim buah, akan semakin banyak orang utan yang datang pada saat feeding, tetapi tidak semua mendengar panggilan dari pemberi makannya bisa jadi dikarenakan pada saat feeding, mereka terlalu jauh. Tiap-tiap orang utan akan membuat rumah masing-masing setiap harinya dan berpindah-pindah, rumah tersebut dibuat dari ranting-ranting pohon dan daun-daun. Selain buah, makanan mereka adalah daun-daun muda dan rayap (orang utan adalah vegetarian). Untuk menenangka satu orang utan jantan membutuhkan 8 orang, dan untuk orang utan betina membutuhkan 5 orang. Di hutan yang kami masuki terdapat beberapa hewan tetapi sukar untuk bertemu, yakni : babi hutan, macan dahan, monyet, beruang madu, kukang, bekatan, macam-macam burung, sepanjang perjalanan kami, bertemu dengan semut api x_x dan beragam burung dan kupu-kupu berukuran ekstra besar dari yang biasa kami lihat, hutan ini sebelumnya adalah tanah pertanian, semenjak beberapa tahun yang lalu kembali direboisasi untuk kawasan konservasi. Di luar kawasan konservasi adalah orang utan liar.

Di camp leakey pernah terjadi perebutan kekuasaan antara orang utan TOM dan KOSASIH, dan kosasih tidak terlihat semenjak itu, tidak diketahui apakah tewas atau membuat kumpulan sendiri. Masih di camp leakey, sekitar 12 tahun yl, pernah ada wisatawan asing bernama Richard merasa gerah dan dia melompat ke sungai yang berwarna hitam tetapi bening, tanpa menyadari bahaya dari buaya-buaya di sungai tsb, semenjak kejadian tersebut pihak konservasi membuat beberapa peraturan dan semakin banyak orang asing yang berkunjung.

Puas di dalam hutan, kami kembali ke pelabuhan, tetapi sebelumnya kami mampir di Desa Sekonyer kembali untuk mengantar rekan adik ipar saya dan mampir ke toko souvenir di depan pintu masuk desa tersebut, oya, disini ada home stay untuk yang ingin menginap tetapi listrik hanya menyala di malam hari saja. Beberapa kilometer dari desa tersebut juga ada semacam hotel, infonya sih disini menggunakan genset jadi tersedia listrik walaupun sinyal tetep on off hehe.  Souvenir yang saya beli disini adalah gelang dari kulit kayu Rp. 45.000 dan rotan Rp. 35.000, gantungan berbentuk pulau kalimantan Rp. 30.000, gelang ini bisa dibuat langsung di desa sehingga bisa pas di pergelangan tangan kita. Untuk kaos dengan tema konservasi berkisar Rp. 150.000-200.000.

penginapanket. foto : home stay di desa Sekonyer

Sesampainya di pelabuhan Kumai, kami menyempatkan diri makan siang di RM Aloha, hasil laut lagi (yeay) dan tetep murmer, super enak, atau kita kelaparan ya? Hehe.

collage rm aloha

Sampai kota Pangkalan Bun, kita juga menyempatkan foto-foto di Monumen Palagan Sambi, Monumen ini didirikan untuk mengenang peristiwa penerjunan payung pertama TNI AU di desa Sambi pada 17 Oktober 1947. Di monumen ini dipajang sebuah pesawat Dakota yang dipakai TNI AU dalam aksi penerjunan. Digambarkan juga kisah penerjunan dan nama-nama penerjun (kalau tidak salah ada 3 orang tewas dari jumlah semua 13 orang penerjun pada saat penyergapan). Salah satu penerjun, bernama Iskandar, namanya diabadikan menjadi nama bandara Pangkalan Bun. Tanggal 17 Oktober kemudian juga ditetapkan sebagai hari jadi Paskhas (Pasukan Khas) TNI AU.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sore harinya, suami saya ada janji dengan teman hobinya diecast pesawatnya di cafe Iduna (cafenya Qila nongkrong – ponakan :D), lokasi cafe ini dekat dengan pusat pasar, cafe ini menyediakan steak dan yah menu cafe pada umumnya sih.

iduna cafe

Dari situ kami sempatkan mencari oleh-oleh untuk keluarga di Bogor, karena besok kami pikir tidak akan sempat, kami menuju pasar Pangkalan Bun, makanan yang terkenal disini adalah kerupuk amplang ikan Belida, renyah nikmat, ada juga amplang ikan tenggiri, lucunya di toko oleh-oleh ini kebanyakan adalah makanan asal solo hehehe ya iyalah yang punya toko memang berasal dari Solo ternyata. Sayangnya saya tidak mendapatkan lempok durian yang teman-teman kantor titip, karena memang sedang tidak musim durian. Setelah makanan, kami lanjut ke toko aksesoris, pastinya yang terkenal di Kalimantan adalah aksesoris batu-batuan, titipan mama, saya beli satu set batu yang sudah dirangkai menjadi kalung, gelang, cincin dan anting, jenis batu yang saya beli adalah topas dan mutiara air tawar, masing-masing kisaran harga 150 – 200rb an, kecuali untuk batu kecubung berkisar 400rb an, batu kecubung memang paling favorit disini.

collage oleh-olehLast Day :

Gak berasa selesai juga liburan kali ini…sebelum menuju kembali ke bandara yang bisa ditempuh hanya sekitar setengah jam, tadinya kita kepengen banget mampir ke Pantai Kubu. tetapi karena jaraknya cukup jauh kami urungkan niat itu. Infonya di pantai itu ada semacam rumah makan laut juga dan enak sekali. Skip untuk lain kali kemari lagi ^^.

Walaupun tidak jadi mengunjungi pantai, kami menyempatkan diri makan nasi tiwul di Warung Makan Roso Nyoto, enaak tapi aneh karena baru kali ini saya makan nasi jagung, saya pribadi pesan ya standar nasi putih ayam goreng.

collage rm nas tiwul

Sesampainya di bandara, ternyata banyak sekali penjual batu-batuan seperti di toko oleh-oleh kemarin dan dengan harga yang lebih murah, bedanya di bandara tidak bisa tawar menawar. Akhirnya saya membeli beberapa souvenir gelang lagi, kali ini bukan dari kayu/rotan tetapi dari batu kecubung Rp. 60.000 dan gelang khas warna warni Rp. 10.000-20.000. Untuk bebatuan yang belum diikat harganya di kisaran Rp. 100.000.

Pukul 11.00 WIB  sudah dipanggil untuk check in, sediiih…will miz u kiddos…untuk penerbangan dari Pangkalan Bun jangan sampai terlambat datang karena penerbangan dari sini sangat tepat waktu sesuai yang tertera di tiket pesawatnya. 1 jam berikutnya kita sampai di Jakarta, ah besok sudah mulai masuk kerja lagi deh….sampai ketemu lagi liburan selanjutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: